Piala Dunia dan Pengawasan Pemilu: Bawaslu Kampar Temukan “Benang Merah” yang Mengejutkan!
|
Bangkinang , 15 Juli 2026 — Di tengah gemuruh sorak ribuan warga yang memadati Taman Kota Bangkinang untuk menyaksikan laga semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina melawan Inggris, Rabu malam (15/7), hadir sosok yang mungkin tak terduga di lokasi nonton bareng tersebut. Kordiv Pencegahan, Parmas dan Humas Bawaslu Kampar, Fadriansyah,S.Pd bersama Sekretaris Dinas PMD Kabupaten Kampar, Bapak Zamhur, S.Ag, M.Si, turut menyaksikan langsung persiapan acara yang digelar mulai pukul 22.00 WIB hingga selesai. Namun kehadiran mereka bukan sekadar menikmati euforia sepak bola, melainkan membawa pesan penting yang menghubungkan dua hal yang tampak jauh berbeda: Piala Dunia dan Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan atau PDPB.
Sekilas, memang tidak ada hubungannya antara sepak bola dengan data pemilih. Tapi jika ditarik benangnya, Fadriansyah menemukan setidaknya tiga keterkaitan yang justru sangat erat. Pertama, keduanya sama-sama membutuhkan data yang akurat dan terus diperbarui. Dalam Piala Dunia, FIFA harus selalu memperbarui data pemain mulai dari klub, cedera, hingga akumulasi kartu kuning setiap harinya. Jika data salah, pemain yang seharusnya diskors justru bisa turun ke lapangan dan mengacaukan pertandingan. Hal yang sama berlaku dalam PDPB, di mana KPU wajib memperbarui data pemilih setiap bulan — siapa yang pindah, siapa yang meninggal, dan siapa yang baru genap berusia 17 tahun. Jika data pemilih salah, warga yang sudah meninggal bisa saja masih tercatat di Daftar Pemilih Tetap atau pemilih pemula justru tidak terdaftar sama sekali. "Tanpa data yang update, pertandingannya kacau. Tanpa data yang update, pemilunya juga kacau," tegas Fadriansyah.
Kedua, baik Piala Dunia maupun PDPB sama-sama membutuhkan wasit dan pengawas yang ketat. Dalam sepak bola, ada wasit lapangan, VAR, dan pengawas pertandingan yang memastikan aturan dipatuhi dan tidak ada kecurangan. Dalam PDPB, terdapat Bawaslu, Panwaslu, serta masyarakat, siswa, dan guru yang berperan sebagai pengawas partisipatif. Mereka bertugas memastikan data tidak ganda, tidak fiktif, dan benar-benar mutakhir. Fadriansyah menganalogikan PDPB sebagai "VAR-nya Pemilu", yang mengecek ulang setiap data agar tidak ada "gol offside" berupa data siluman yang merugikan hak pilih masyarakat.
Ketiga, baik Piala Dunia maupun Pemilu adalah ajang yang digelar secara periodik — empat tahunan untuk Piala Dunia dan lima tahunan untuk Pemilu — namun persiapannya harus berjalan berkelanjutan. Tidak ada timnas yang hanya berlatih satu minggu sebelum Piala Dunia dan berharap tampil maksimal. Begitu pula dengan data pemilih, tidak bisa hanya dibereskan tiga bulan sebelum pencoblosan. "Kalau menunggu mepet baru beresin data, hasilnya pasti berantakan. Sama seperti timnas yang baru latihan seminggu sebelum Piala Dunia," ungkap Fadriansyah.
Lebih dari itu, Fadriansyah melihat momen Piala Dunia sebagai peluang edukasi yang sangat strategis. Saat semua orang menonton televisi, membuka gawai, dan berbincang di sekolah maupun warung kopi, pesan tentang pentingnya mengecek data pemilih bisa dikemas dengan bahasa yang lebih dekat dengan anak muda. "Sama seperti FIFA mengecek data pemain, ayo kita cek data kita di laman cekdptonline," ajaknya.
Pada akhirnya, kesimpulan yang ingin disampaikan sederhana namun mengena. Piala Dunia adalah pestanya sepak bola, sedangkan Pemilu adalah pestanya demokrasi. Agar kedua pesta berjalan lancar dan adil, satu hal mutlak diperlukan: data yang bersih dan pengawasan yang ketat. "Kalau data pemain Piala Dunia salah, yang rugi satu tim. Tapi kalau data pemilih salah, yang rugi satu negara lho," pesan Fadriansyah menutup perbincangan.
Selamat menyaksikan laga sengit Argentina melawan Inggris malam ini. Siapa pun pemenangnya, Spanyol telah siap menunggu di partai final — tim yang juga menjadi unggulan favorit Kordiv Fadriansyah. Semoga pertandingan berjalan fair, sebagaimana harapan kita semua terhadap Pemilu ke depan.
Penulis : Naufal
Editor : Humas
Foto : Humas